Dieng, dataran tinggi kedua dunia setelah Nepal

Jumat, 30 Agustus 2013
Dataran Tinggi Dieng terletak di perbatasan antara Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah (Jateng). Dataran tinggi Dieng secara administratif terbagi dalam dua wilayah, yakni Dieng Wetan, Kecamatan Kejajar, Wonosobo dan Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Banjarnegara.

Nama ‘Dieng’ sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yaitu "Di" yang berarti tempat yang tinggi dan ”Hyang” yang artinya tempat para dewa-dewi. Diartikan kemudian sebagai tempat kediaman para dewa dan dewi.

Ada juga yang mengartikannya dari bahasa Jawa yaitu “adi” berarti indah, berpadu dengan kata “aeng” yang artinya aneh. Penduduk setempat kadang mengartikannya sebagai tempat yang indah penuh dengan suasana spiritual.

Dataran tinggi Dieng bagaikan negeri di atas awan. Terhampar di ketinggian 2.000 m di atas permukaan laut membuat udaranya sejuk dan menyegarkan serta ditutupi kabut tebal. Karena keindahannya yang menakjubkan inilah diyakini bahwa Dieng dipilih sebagai tempat yang sakral dan tempat bersemayamnya dewa-dewi.

Jika mengunjungi wilayah tersebut, kita akan dapat menikmati pemandangan lumpur mendidih yang mengeluarkan gelembung, danau belerang berwarna cerah dan kabut tebal yang menyelimuti dataran tinggi Dieng. Melihat, merasakan, dan membayangkan tempat ini secara langsung akan membuat kita memahami mengapa masyarakat Jawa menganggap Dieng sebagai tempat yang memiliki kekuatan supernatural.

Ketinggian Dieng yang berada di atas rata-rata pun patut dibanggakan, pasalnya Dieng mendapatkan predikat dataran tinggi kedua di dunia setelah Nepal.

Kawasan itu juga dikenal dengan keindahan alamnya yang cukup eksotis. Di kawasan Dieng sendiri terdapat beberapa obyek wisata alam yang cukup indah. Diantaranya adalah Telaga Warna, Kawah Sikidang, Telaga Menjer, serta pemandangan pegunungan lain seperti Gunung Sindoro.

Tidak hanya itu, Dieng juga dikenal dengan negeri yang subur dan makmur. Pertanian jenis sayur seperti kentang menjadi komoditi utama yang dihasilkan oleh masyarakat di sana. Bahkan kentang asli Dieng memiliki kualitas yang sangat tinggi dan dipakai untuk bahan baku kentang goreng di salah satu merek terkenal di dunia.

Satu hal yang juga tak kalah terkenal dari Dieng, penduduk setempat menyebutnya 'anak gembel' atau anak gimbal. Menurut kepercayaan warga setempat, anak gimbal merupakan anugerah dari para dewa sehingga fenomena ini patut disukuri.

Biasanya jika rambut anak gimbal dipaksakan dipotong, maka si anak akan cenderung sakit-sakitan, dan anehnya rambut gimbal anak-anak gimbal tidak secara alami tumbuh ketika mereka dilahirkan, namun tumbuh saat usia mereka menginjak 1-2 tahun.